Pertanyaan yang Sulit Dijawab: Kenapa Narkoba Ada dan Ada Terus

Print

hariandialog.com - Jumat   lalu (22/11-2013) saya bersama putra pertamaku bepergian ke Makasar dalam rangka memenuhi undangan pelantikan  teman yang menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Makasar.  Menuju ke Makasar, kami menggunakan pesawat Garuda karena beberapa faktor kelebihan pelayanan dari perusahaan penerbangan plat merah itu.


Sudah kebiasaan setiap pesawat mau mendarat pramugari selalu mengumandangkan pengumuman diantaranya agar para penumpang membuka jendela, menaikkan kursi seperti semula dan menutup meja yang ada dihadapan sedangkan bagi penumpang eksekutif juga diperintahkan untuk menaikkan sandaran kaki. Yang tak kalah penekanannya adalah “bagi siapa saja yang membawa narkoba akan mendapat hukuman yang berat dan bagi siapa yang mengetahuinya agar melaporkan kepada petugas”.

Sampai di Makasar kami langsung menuju ke tempat acara pelantikan  di gedung Pengadilan Tinggi Makasar. Selesai acara pelantikan kami tidak langsung ke hotel tetapi berkeliling kota Makasar sambil mencari oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Jakarta karena pertimbangan keesokan harinya yaitu Sabtu (23/11-2013) kami kembali. Putra saya yang masih duduk di salah satu universitas swasta
di Jakarta tidak lupa membeli Koran terbitan Makasar dan sambil memandang kota dari jalan ke jalanan yang lain sesekali matanya tertuju kepada Koran yang ada di tangannya.

Usai acara berkeliling kami menuju hotel. Di Hotel putra saya yang senang melihat berita-berita di televisi selalu gontaganti chanel hanya untuk mencari siaran berita dari beberapa stasiun televisi. Kalau tidak ada sambil mendengarkan musik yang ada dari salah satu stasiun televisi luar, putra saya itu membaca Koran baik yang dibeli di Makasar maupun yang diambil saat mau masuk pesawat dari
Jakarta.

Keesokan harinya yaitu Sabtu (22/11-2013) kami kembali ke Jakarta juga dengan menggunakan pesawat Garuda. Dalam perjalanan ke Jakarta sebelum pesawat landing atau mendarat kembali seperti
keharusan pramugari mengumandangkan pengumuman ‘bagi siapa saja yang membawa narkoba akan mendapat hukuman berat dan bagi siapa yang mengetahui agar melaporkannya kepada petugas”.

Sesampai di terminal internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, kami menuju tempat parkir mobil ketepatan agar tidak repot kami membawa dan memarkirkan kendaraan di
bandara. Di atas mobil menuju perjalan pulang ke rumah, putra saya mulai bertanya diantaranya : Be, katanya dengan logat Betawinya, kenapa Narkoba itu ada dan ada terus, kita mau mendarat di bandara
Sultan Hasanudin Makasar dikumandangkan pengumuman yang intinya jangan membawa narkoba. Mau pulang juga demikian. Di Koran yang saya baca kemarin dan hari ini juga selalu ada berita tentang penangkapan baik pengguna maupun Bandar narkoba. Begitu juga berita di televisi terkait kasus-kasus narkoba. Emangnya petugas kita kemana ya? dan Apakah karena hukumannya bisa dibeli hingga peredaran narkoba menjamur terus?

Apakah bisa diwujudkan pemerintah bahwa 2015, Indonesia bebas dari narkoba atau ada faktor dimana aktor bermain mencari uang mudah di peredaran narkoba? Aduh ini pertanyaan yang sulit saya jawab dan secara tidak langsung saya memasukkan kendaraan ke pom bensin guna menghindari atau mengalihkan agar tidak saya jawab karena sulit untuk menjawabnya.  (horas)

Berita Sebelumnya: