Hariandialog,Wednesday 17 July 2019, 11:17

Sisingamangaraja XII dan Upayanya Membuka Sistem Politik Batak

PDFPrintE-mail

Jakarta, hariandialog.com - 17-06-2019 – Sisingamangaraja XII harus menghadapi Belanda pada awal 1878. Sikap kerasnya yang enggan menerima kehadiran misionaris Eropa melahirkan konsekuensi dengan risiko tinggi. Kaum penginjil yang merasa diancam oleh Raja Negeri Toba itu kemudian melaporkannya kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah pun langsung merespons. Tak hanya markas Sisingamangaraja XII yang ditargetkan, melainkan seluruh Tanah Toba.

Awal Februari 1878, Belanda menyiapkan pasukan untuk bergabung dengan para tokoh misionaris di pedalaman Sumatera Utara. Mereka rupanya merancang strategi untuk menyerang Sisingamangaraja XII. Yang disasar ternyata sudah siap. Penguasa Toba itu mengumumkan maklumat perang. Maka pecahlah pertempuran perdana pada 18 Februari 1878 (Pirmian Tua Dalan Sihombing, Pendeta Mangaradja Hezekiel Maang, 2008:24).

Jika Sisingamangaraja XII menolak, bahkan mengusir, penginjil yang datang ke Toba, lantas apa agama yang dianutnya?

SEMULA MENGANUT AJARAN LOKAL

Sebelum agama Islam dan Kristen masuk serta berkembang di Tanah Batak, kebanyakan rakyat di sana menganut ajaran leluhur (animisme), semacam Ugamo Batak, atau kepercayaan lokal orang-orang Batak. Ajaran ini memiliki banyak ragam dan tersebar di pelbagai tempat, terutama di wilayah pedalaman Batak (Tridah Bangun, Penelitian dan Pencatatan Adat Istiadat Karo, 1990:78). Juga memiliki banyak sebutan, kadang disebut Parbegu, atau nama yang lain.

Selain ajaran Parbegu yang menjadi agama mayoritas orang Batak pada zaman itu, masih ada pula agama lain yakni Malim dan pengikutnya disebut Parmalim. Kepercayaan yang terakhir ini, bagi beberapa kalangan, merupakan kombinasi atau perpaduan dari agama Islam dan Kristen dan nilai-nilai kepercayaan lokal. Ada juga yang menganggap Malim sepenuhnya berasal dari ragam kepercayaan lama orang Batak Toba yang dikanonisasi sebagai respons terhadap konteks sosial dan politik.

Bonar W. Sidjabat, penulis sejumlah buku tentang Batak dan Sisingamangaraja, termasuk dalam buku Ahu Sisingamangaraja, menyebut Sisingamangaraja XII adalah penganut ajaran Malim. Buku ArsitekturTradisional Daerah Sumatera Utara karya S.P Napitupulu & Hilderia Sitanggang (1997) juga menuliskan Sisingamangaraja XII adalah Parmalim.

Kendati demikian, Parmalim percaya bahwa semua keturunan Sisingamangaraja akan menjadi raja di seluruh dunia. Mereka juga percaya sang raja tidak pernah mati (Napitupulu & Sitanggang, 1997:27). Sisingamangaraja sendiri merupakan gelar kehormatan yang disandang oleh raja-raja di Negeri Toba.

Bagi sebagian orang Toba, Malim lebih dari sekadar agama, melainkan menjadi gerakan sosial dan politik yang menganggap Sisingamangaraja XII sebagai pemimpin suci dan bertujuan untuk melestarikan pola kehidupan pra-kolonial (Suzel Ana Reily & Jonathan M. Dueck, The Oxford Handbook of Music and World Christianities, 2016:47). Kepercayaan semacam ini membuatnya berwatak messianik, pola yang—dalam pelbagai bentuknya—kerap mencuat dalam gerakan-gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada abad 19 hingga awal abad 20.

Maka tidak mengherankan jika Sisingamangaraja XII disokong penuh masyarakat Toba. Parmalim menjadi salah satu faktor kunci kegigihan Sisingamangaraja XII dan rakyatnya dalam melawan Belanda sampai titik darah penghabisan, meskipun ke depannya nanti agama Kristen yang justru lebih dominan.

SISINGAMANGARAJA XII MASUK ISLAM?

Mereka yang percaya Sisingamangaraja XII sang Raja Batak adalah seorang muslim, atau kemudian menjadi mualaf, juga cukup banyak. Ada sejumlah indikator untuk meyakini teori tersebut, salah satunya Negeri Toba yang dipimpin Sisingamangaraja XII pernah menjadi wilayah taklukan Kesultanan Paguruyung, kerajaan Islam di Minangkabau (Sumatera Barat).

Bahkan bukan sekadar wilayah taklukan. Menurut Thomas Stamford Raffles, orang Inggris yang pernah menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811-1816, Sisingamangaraja masih keturunan Minangkabau atau Pagaruyung. Dalam Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles (2003), Raffles memperoleh informasi tersebut justru dari para pemimpin Batak sendiri.

Pagaruyung semula adalah kerajaan Hindu yang berkaitan dengan eksistensi Majapahit pada abad 14. Setelah Majapahit runtuh, Pagaruyung beralih menjadi kerajaan Islam sejak awal abad 16 dengan kehadiran kaum musafir muslim dan guru agama dari Aceh atau Malaka. Raja pertama Minangkabau yang memeluk Islam diketahui bergelar Sultan Alif (Dt. Batuah & Madjoindo, Tambo Minangkabau dan Adatnya, 1959).

Pengaruh Pagaruyung, yang menjelma menjadi pemerintahan Islam, menjadi salah satu alasan untuk meyakini Negeri Toba taklukannya, yang dipimpin oleh Sisingamangaraja XII, pun menganut agama yang sama.

Ada pula yang meyakini keislaman Sisingamangaraja XII diperoleh dari Aceh. Dada Meuraxa (1973:524) dalam Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara (1973) menyebut Raja Negeri Toba sebelumnya, yakni Sisingamangaraja XI (ayahanda Sisingamangaraja XII), pernah menetap di tanah rencong dan mendapatkan didikan militer dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Kabar Sisingamangaraja XII seorang muslim lantaran pengaruh Aceh sempat diembuskan justru oleh penginjil Kristen. Mereka yakin Sisingamangaraja XII memeluk Islam karena Negeri Toba menjalin kerjasama erat dengan Kesultanan Aceh Darussalam untuk menghadapi Belanda sekaligus membendung masuknya ajaran Islam ke Tanah Batak.

Raffles juga pernah menyinggung kemungkinan ini meski tidak secara gamblang. Ia menyebut jika kekuatan Islam antara Minangkabau dan Aceh bersatu, maka akan menjadi ancaman sangat serius bagi kekuasaannya (Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, 1994:73). Minangkabau yang dimaksud adalah Kesultanan Pagaruyung yang bertautan dengan Negeri Toba.

Perdebatan tentang apakah Sisingamangaraja XII beragama Islam atau bukan masih berlangsung bahkan hingga wilayah Batak dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan justru di kalangan orang kolonial sendiri. Dalam surat kepada Departement van Oorlog (Departemen Pertahanan) tertanggal 19 Juli 1907, atau sebulan setelah Sisingamangaraja XII gugur di medan laga, dilaporkan:

“Bahwa sudah pasti S.S.M. (Sisingamangaraja XII) yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.” (Walter Bonar Sidjabat, Ahu Si Singamangaraja, 1983:340)

Dalam laporan lain, Sisingamangaraja XII diyakini telah memeluk agama Islam tapi bukan seorang muslim yang fanatik. Sisingamangaraja XII juga tidak memaksakan kepada rakyatnya untuk beralih ke agama Islam meski ia berkuasa sebagai raja (Bersambung). (Tirto/tob)

Berita Sebelumnya:

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH

PILIHAN REDAKSI

Silahturahmi Insan Pers Gubsu dan Wagub Batal, Staf Humas dan Wartawan Berjoget Ria
Silahturahmi Insan Pers Gubsu dan Wagub Batal,... Medan,hariandialog.com- Silahturahmi yang digelar Biro Humas Sekdaprovsu Gubernur dan Wakil Gubenur Sumut batal. Pasalnya acara yang dikemas di...

SURAT KABAR DIALOG

KESEHATAN

BUPATI TERIMA PENGHARGAAN HARGANAS TINGK…

Grobogan, hariandialog.com- (6/7) Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH,...

Di Kabupaten Badung Tiap Bulan  Ditemukan 36 Kasus HIV/AIDS

Di Kabupaten Badung Tiap Bulan Ditemuka…

Denpasar, hariandialog.com – 26-6-19 - Di Kabupaten Badung ada  kece...

TEKNOLOGI

Bupati: Membangun Badung untuk Membahagiakan Masyarakat
Bupati: Membangun Badung untuk Membahagiakan... Denpasar, hariandialog.com - 1-7-19 - Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta bersama Wabup. I Ketut Suiasa dan Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa bertatap...

KANTOR PUSAT :
Jl Binawarga No 4 Kalibata, Jakarta Selatan 12750 Telp. (021) 79193461, 92296596; Fax. (021) 7946448
Email: dialog_indonesia@yahoo.com - http://www.hariandialog.com

PERWAKILAN :
• Tanggerang • Serang • Banten • Bekasi • Kerawang • Cibinong • Bogor -Cianjur- Sukabumi • Bandung• Garut • Tasikmalaya•Sumedang• Purwakarta • Cirebon • Majalengka • Indramayu • Semarang • Surabaya • Sidoarjo • Bali • Bima • Bandar Lampung • Lampung Selatan • Lampung Utara • Lampung Barat • Tanggamus • Bangka • Bangka Barat • Pangkal Pinang • Belitung • Jambi• Sumsel • Bengkulu• Lubuk Linggau • Lingga • Batam• Tanjung Pinang • Karimun«Pekan Baru • Padang • Medan • Kabanjahe«Tanahkaro • Deliserdang«Serdang Bedagal• Binjal -Langkat «Labuan Batu •Sibolga-Pematang Slantar»Tarutung.Barus« Makasar-Sulbar-Mamuju •Bolmong«Sorong Papua Barat • P. Sidempuan • Nias • Bengkulu • Tembilahan