Hariandialog,Thursday 22 August 2019, 16:26
  • Create an account

Pakai foto Raja Sisingamangaraja ke-XII Kemanakah Keturanan Sisingamangaraja ke- XII

PDFPrintE-mail

Jakarta, hariandialog.com.- 12-08-2019. Setelah Patuan
Bosar Ompu Pulo Batu (marga Sinambela) alias Sisingamangaraja XII
terbunuh oleh pasukan pemburu Marsose pimpinan Kapten Hans
Christoffel, keluarganya jadi tahanan rumah. Sebelumnya, para istri
dan anak-anaknya harus menjalani hari-hari melelahkan dalam kehidupan
gerilya yang membuat mereka harus berpindah-pindah karena kejaran
tentara Hindia Belanda.

“Kelima putra Sisingamangaraja XII yang masih hidup dikenai tahanan
rumah di Pea Raja, dekat Tarutung, tempat mereka dibaptis oleh
misionaris,” tulis Daniel Perret dalam Kolonialisme dan Etnisitas
Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut (2010, hlm. 240). Keluarga
mendiang Sisingamangaraja XII, yang semula menganut agama lokal
Parmalim, perlahan diperkenalkan dengan ajaran Kristen yang belakangan
menjadi agama besar di Sumatra Utara. Menurut Walter Bonar Sijabat
dalam Ahu Si Singamangaraja (1982, hlm. 328) mereka dibaptis pada
1910, setelah tiga tahun ditahan.

Koran Belanda Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië
(22/07/1930) menyebut nama anak-anak Sisingamangaraja XII berdasarkan
nama baptis: Raja Boental alias Karel Boental Sinambela, Raja Barita
alias Hendrik Barita Sinambela, Raja Sabidan alias Willem Sabidan
Sinambela dan Raja Pangkilim alias David Pangkilim Sinambela.

Anak-anak Sisingamangaraja XII, yang belum dewasa ketika masih
bergerilya, akhirnya berkenalan dengan pendidikan Barat. “Tiga yang
tertua, Raja Sabidan, Pangkilim dan Raja Buntal dikirim ke Jawa tahun
1916. Beberapa tahun kemudian, dua adik mereka, Raja Barita dan
Mangarandang, pun ikut bergabung,” tulis Perret. Selain disekolahkan,
anak-anak Sisingamangaraja tentu saja terus diawasi oleh pemerintah
kolonial.

Mereka diawasi berdasarkan Besluit (keputusan pemerintah) tanggal 25
Maret 1908. Mereka diharuskan kost di rumah keluarga Belanda. Selain
mudah diawasi, mereka belajar hidup ala Barat. Raja Boental dan Raja
Sabidan, menurut Sijabat, mulai bersekolah ketika usia mereka lebih
dari 13 tahun. Keduanya mulai sekolah dari kelas satu.

“Raja Pangarandang diasingkan ke Kudus, Jawa Tengah, meninggal di sini
pada tahun 1926, sementara Raja Pangkilim yang masih mengikuti
pendidikan guru di Sipoholon diasingkan ke Bogor, akhirnya meninggal
di kota ini tahun 1946,” tulis Poernama Rea Sinambela dalam Ayahku Si
Singamangaraja XII, pahalawan nasional (1992, hlm. 72). Raja Boental
sempat belajar di Rechtschool (sekolah hukum) Jakarta ketika sekolah
itu belum berstatus perguruan tinggi.

Anak laki-laki Sisingamangaraja XII, yang merasakan bangku sekolah
kolonial, kemudian jadi orang yang cukup terpelajar di abad ke-20.
Raja Boental, anak Sisingamangaraja XII dari Boru Sagala, seperti
disebut Bataviaasch nieuwsblad (11/03/1918), pernah mewakili
Rechtschool bertanding catur dengan klub catur Weltevreden. Raja
Boental dikalahkan Milborn. Secara keseluruhan, Rechtschool kalah.

Setelah lulus ia sempat bekerja di Departemen Kehakiman kolonial.
Awalnya sebagai panitera. Koran Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië (10/01/1929) menyebut, awal 1929 ia masih bekerja
di pengadilan negeri Jakarta dan sedang diarahkan belajar hukum adat
Batak. Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië
(10/09/1930) menyebutkan anak tertua Sisingamangaraja XII menjadi
pegawai di pengadilan negeri Jatinegara, Jakarta Timur. Ia sedang
belajar di sekolah tinggi hukum dan akan ditempatkan di departemen
administrasi.

“Semasa Raja Boental masih hidup dan Jepang masuk rupanya masih sempat
timbul prakarsa untuk “merajakan”Raja Boental sebagai pengganti
Sisingamangaradja XII,” tulis Sitor Situmorang dalam Sitor Situmorang,
seorang sastrawan 45, penyair Danau Toba (1981, hlm. 90-96). Semasa
hidupnya, Raja Boental disegani pemerintah kolonial dan cukup
berpengaruh di kalangan orang-orang Batak. Ia menikahi perempuan dari
marga Sembiring dan tutup usia tak lama setelah Jepang menduduki
Sumatra Utara dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua. Ia
meninggal di Pematangsiantar pada 1943 karena penyakit paru-paru.

Raja Sabidan, anak Sisingamangaraja dengan Boru Nadaek, sekolah
bersama Raja Boental. “Raja Sabidan rupanya dapat menyelesaikan
pendidikannya, namun langsung bekerja di Algemene Volkscredit Bank,”
tulis Poernama Rea Sinambela. Bank tersebut di kemudian hari menjadi
Bank Rakyat Indonesia. Belakangan, Raja Sabidan membeli tanah di
Soposurung, Balige. Seperti dimuat dalam berita kematian di Het
Nieuwsblad voor Sumatra (17/11/1951), Raja Sabidan pernah menjadi
Inspektur Bank Rakyat Indonesia Sumatra Utara. Ia tutup usia pada 11
november 1951

Raja Barita, anak Sisingamangaraja XII dari Boru Sagala, jadi orang
pemerintahan. Perret mencatat ia menjadi asisten demang pada 1939. Ia
sempat belajar hukum di Jawa dan pernah bekerja di kantor residen
Sibolga dan di Nias sebagai kontrolir. Ibunya, Boru Sagala—yang sempat
dikenai tahanan rumah di Tarutung—menjodohkannya dengan putri kepala
negeri Porsea, Raja Manurung.

Ketika isu Sisingamangaradja XII akan diangkat jadi Pahlawan Nasional,
orang bertanya-tanya soal rupa Sisingamangaradja XII. Pelukis bernama
Augustin Sibarani pun ditugasi untuk melukisnya. Untuk itu ia harus
meriset dan membuat rekonstruksi wajah Sisingamangaraja. Ia mencari
potret Raja Sabidan dan Raja Boental yang dianggap mirip dengan
Sisingamangaraja XII. Tak lupa salah satu kawan seperjuangan
Sisingamangaraja XII yang masih hidup, Raja Ompu Babiat Situmorang
yang tinggal di Dairi, pun didatangi untuk dimintai keterangan. Ada
pula bekas kurir Sisingamangaraja XII yang ditanyai soal pakaian sang
raja. Tak jauh dari kantor gubernur Sumatra Utara, tinggallah Raja
Barita yang dijadikan model oleh Sibarani. Di rumah Raja Barita,
Sibarani akhirnya bertemu Putuan Sori, anak dari Raja Boental, yang
masih duduk di bangku SMA dengan usia sektiar 18 tahun.

“Putra Raja Boental inilah, yaitu Putuan Sori, yang saya minta untuk
menjadi model saya, tetapi saya tekankan bahwa bukan wajahnya yang
saya akan lukis,” kata Sibarani, dalam buku Perjuangan Pahlawan
Nasinal Sisingamangaraja (1980, hlm. 274).

Ketika lukisan hampir selesai, Sibarani didatangi salah satu putri
Sisingamangaraja yang kala itu usianya sudah 70-an. Ia lebih tua dari
Lopian, tapi lebih banyak di rumah ketimbang bergerilya seperti
Lopian—yang gugur oleh tentara Belanda. Sibarani diberi masukan soal
bulu dada, jenggot, dan lain sebagainya. Setelah diperbaiki Sibarani,
lukisan itu berikan ke negara. Ketika lukisan dilihat oleh putri
Sisingamangaraja XII itu, si putri Sisingamangaraja XII itu berteriak,
“Among!” (ayah). Ia dikabarkan jatuh pingsan.  (tirto/tob)

 

Berita Sebelumnya:

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH

PILIHAN REDAKSI

Workshop Dewan Pers “Darurat Deregulasi Media Baru”
Workshop Dewan Pers “Darurat Deregulasi Media... Bengkulu, hariandialog.com – 15-8-2019 - Kekhawatiran terhadap penguasaan dunia sosial oleh negara kapitalis Amerika dengan lima perusahaan...

SURAT KABAR DIALOG

KESEHATAN

BUPATI TERIMA PENGHARGAAN HARGANAS TINGK…

Grobogan, hariandialog.com- (6/7) Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH,...

Di Kabupaten Badung Tiap Bulan  Ditemukan 36 Kasus HIV/AIDS

Di Kabupaten Badung Tiap Bulan Ditemuka…

Denpasar, hariandialog.com – 26-6-19 - Di Kabupaten Badung ada  kece...

TEKNOLOGI

Ombudsman Dorong Pemkab Badung Tingkatkan Inovasi Pelayanan Publik
Ombudsman Dorong Pemkab Badung Tingkatkan Inovasi... Denpasar, hariandialog.com - 2-8-2010 - Asisten Ombudsman RI (ORI) Unit Kerja Khusus  Reformasi dan Transformasi Kelembagaan ( UKKRTK ) Perwakilan...
Kab. Badung Masuk Nominasi Peraih Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional 2019
Kab. Badung Masuk Nominasi Peraih Anugerah Iptek...

Denpasar, hariandialog.com - 30-8-2019 - Kabupaten Badung masuk nominasi...

KANTOR PUSAT :
Jl Binawarga No 4 Kalibata, Jakarta Selatan 12750 Telp. (021) 79193461, 92296596; Fax. (021) 7946448
Email: dialog_indonesia@yahoo.com - http://www.hariandialog.com

PERWAKILAN :
• Tanggerang • Serang • Banten • Bekasi • Kerawang • Cibinong • Bogor -Cianjur- Sukabumi • Bandung• Garut • Tasikmalaya•Sumedang• Purwakarta • Cirebon • Majalengka • Indramayu • Semarang • Surabaya • Sidoarjo • Bali • Bima • Bandar Lampung • Lampung Selatan • Lampung Utara • Lampung Barat • Tanggamus • Bangka • Bangka Barat • Pangkal Pinang • Belitung • Jambi• Sumsel • Bengkulu• Lubuk Linggau • Lingga • Batam• Tanjung Pinang • Karimun«Pekan Baru • Padang • Medan • Kabanjahe«Tanahkaro • Deliserdang«Serdang Bedagal• Binjal -Langkat «Labuan Batu •Sibolga-Pematang Slantar»Tarutung.Barus« Makasar-Sulbar-Mamuju •Bolmong«Sorong Papua Barat • P. Sidempuan • Nias • Bengkulu • Tembilahan