Hariandialog,Monday 16 July 2018, 10:35
Opini

TGB-kah Cawapres Jokowi?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Bahwa Presiden Joko Widodo maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 tampaknya suatu keniscayaan. Yang belum niscaya adalah siapa calon wakil presidennya. Di hadapan para Aktivis 1998 di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/7/2018), Jokowi mengaku sudah mengantongi nama cawapresnya, tinggal mengumumkan, tapi ia tak mau membocorkan. Pendaftaran capres-cawapres di Komisi Pemilihan Umum (KPU) dibuka pada 4-10 Agustus 2018.

Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah cawapres yang menurut PDIP paling ideal mendamping Jokowi kembali pada Pilpres 2019 karena chemistry-nya. Tapi, JK terhalang Pasal 7 UUD 1945 dan Pasal 169 huruf N Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, karena sudah dua kali menjabat wapres (2004-2009 dan 2014-2019). Sebab itu, JK kini sibuk bermanuver, baik sendiri yang diprediksi membidik kursi RI-1, maupun bersama Anies Baswedan yang diprediksi sedang ia proyeksikan sebagai capres atau cawapres.

Anies juga salah satu nama yang disebut bisa mendampingi Jokowi, tapi mungkin Gubernur DKI Jakarta itu, jika memang mau maju di Pilpres 2019, lebih memilih Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai patronnya.

Nama lain yang disebut adalah mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Kepala Kantor Sekretariat Presiden (KSP) Jenderal (Purn) TNI Moeldoko, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB).

Belakangan, ada perubahan sikap TBG secara signifikan, kalau tak boleh dibilang berbalik 180 derajat, terhadap petahana Jokowi. Bila selama ini dikesankan sebagai oposan, kini ia justru mendukung Jokowi menjabat presiden dua periode, dengan pertimbangan kemaslahatan bangsa, kepentingan umat, dan akal sehat. Peluang TGB menjadi cawapres Jokowi pun kian meroket usai menyatakan dukungannya terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Surakarta itu dalam Pilpres 2019, Rabu (4/7/2018).

Sebagai catatan, TGB ikut turun ke jalan dalam Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016 (411) yang menuntut Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta saat itu, diadili dalam kasus penistaan agama. TGB kembali aktif dalam Aksi Bela Islam III, 2 Desember 2016 (212), dengan tuntutan yang sama. Di pihak lain, hubungan Jokowi-Ahok ada yang menganalogikan sebagai patron-klien. Namun, kini TGB justru mendukung Jokowi.

Perubahan sikap itulah yang kemudian membuat teman-teman oposan TGB, seperti PA 212, Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) kebakaran jenggot. Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Gerindra dan juga Wakil Ketua DPR RI, menyeut TGB “lemah iman”. Prabowo menilai sikap TGB itu wajar-wajar saja di era demokrasi ini.

Ferry Juliantono, Wakil Ketua Umum Gerindra lainnya, menyatakan, masyarakat sudah bisa melihat secara gamblang apa yang melatari TGB mendukung Jokowi. Apalagi, katanya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah membuka penyelidikan terkait divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang kini berubah nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Dalam kasus ini, nama TGB dikaitkan sebagai pihak yang meminta agar melepas saham 6% PT NNT yang dimiliki tiga daerah, yakni Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa dan Pemkab Sumbawa Barat di PT Daerah Maju Bersaing (DMB). Mei lalu, TGB memang pernah menjalani pemeriksaan di KPK, namun tidak dijelaskan asalan pemeriksaan itu. Pihak KPK hanya berdalih kasus tersebut baru dalam tahap “pulbaket” (pengumplan bahan dan keterangan).

"Sama sekali tidak ada. Saya tidak pernah dalam hidup saya memutuskan sesuatu yang di luar keyakinan saya sebagai manusia," kata TGB di Jakarta, Rabu (4/7/2018), membantah tudingan ia mendukung Jokowi karena pernah diperiksa KPK.

Mungkinkah TGB menerima deal politik hendak dijadikan cawapres Jokowi? Kita tidak tahu pasti. Yang pasti, di dunia politik tak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan.

Jokowi berkepentingan menggaet suara kalangan muslim, karena selama ini terstigmatisasi komunis dan memusuhi ulama. TGB yang Ketua Alumni Universitas Al Azhar, Mesir, Cabang Indonesia, itu, selama ini diidentifikasi sebagai pembawa suara dan aspirasi umat Islam, sehingga dengan itu Jokowi bisa meredam stigma negatif tersebut. Jokowi juga berkepentingan menggaet suara masyarakat Indonesia timur, dan itu ada dalam diri TGB. Vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bagaimana dengan TGB? Apes-apesnya, bila benar asumsi sementara orang bahwa KPK bisa dikendalikan Presiden, maka pemeriksaan TGB oleh KPK tak akan berlanjut.

Mujur-mujurnya, bika berduet dengan Jokowi, peluang Jokowi-TGB terpilih dalam Pilpres 2019 lebih besar bila dibandingkan jika berduet dengan Prabowo. TBG tentu tak ingin karier politiknya mentok sebatas gubernur. Seperti politisi lainnya, Ketua DPD Partai Demokrat NTB ini juga punya mimpi menjadi RI-2 bahkan RI-1, dan itu sah-sah saja. Tak masalah jika ia harus dipecat Demokrat gara-gara mendukung Jokowi, sebagaimana JK yang mantan Ketua Umum Partai Golkar itu tak takut dipecat partainya saat mendukung bahkan berduet dengan Jokowi dalam Pilpres 2014, melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang didukung Golkar. Posisi wapres 2019-2024 sangat strategis, karena ia bisa lanjut nyapres pada Pilpres 2024.

Chief Executive Officer (CEO) Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai terbukanya peluang bagi TGB lantaran dia punya potensi meningkatkan elektabilitas Jokowi. TGB dianggap dapat menggaet pemilih di wilayah Indonesia timur lantaran pernah menjabat Gubernur NTB dua periode (2008-2013 dan 2013-2018). TGB juga tokoh Islam yang cukup disegani, karena ia tokoh Nahdlatul Wathan, ormas Islam terbesar di Lombok, NTB. Dengan posisinya itu, TGB diprediksi dapat merangkul kalangan muslim. TGB juga dapat menarik suara dari para pemilih Demokrat.

Namun, menurut Djayadi Hanan, ada dua hambatan bagi TGB menjadi cawapres Jokowi. Pertama, TGB bukan satu-satunya tokoh Islam kuat dalam bursa cawapres. Ada pula nama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PPP Romahurmuzy. Ada juga nama eks-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, bahkan Mahfud dalam survei terakhir masuk dalam tokoh lima besar yang dianggap tepat sebagai cawapres Jokowi. Kedua, partai koalisi pendukung pemerintah belum tentu mau menerima TGB menjadi cawapres Jokowi, karena TGB masih menjadi kader Demokrat yang belum memutuskan dukungannya kepada Jokowi.

Apakah nama TGB yang ada di kantong Jokowi? Hanya Tuhan dan Jokowi sendiri yang tahu.

 

Karyudi Sutajah Putra: Pegiat Media, tinggal di Jakarta

“Mbabar” Mas Ganjar

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Ambil keputusan di detik terakhir! Itulah “pakem” yang diterapkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam menentukan calon kepala daerah. Namun, menghadapi Pilkada 2018, Megawati seakan keluar dari “pakem” tersebut. Buktinya, jauh hari Megawati, yang diberi hak prerogratif partainya menetapkan calon kepala daerah, telah menetapkan calon gubernur untuk Jawa Timur dan Sulawesi Selatan (15 Oktober 2017) serta Bali (11 November 2017). Sebaliknya, untuk Jawa Tengah ada kesan mengulur waktu. Megawati kembali ke “pakem”?

 

Baca Teks Proklamasi Jangan Sampai Jadi “Kutukan”

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Setiap tanggal 17 Agustus, diperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta. Kemerdekaan RI diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh dwi-tunggal Soekarno-Hatta. Selain dihadiri Presiden RI dan Wakil Presiden RI, upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi juga dihadiri semua pejabat negara mulai dari Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ketua Mahkamah Agung (MA) RI, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Ketua Komisi Yudisial (KY) RI, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan lain-lain serta undangan dari sejumlah daerah di Indonesia bahkan perwakilan luar negeri.

Persekusi dan Eigenrichting

Salah satu terma yang sering kita temukan dalam diskursus di media pada akhir-akhir ini adalah "persekusi". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) persekusi diartikan sebagai pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Page 1 of 20

PILIHAN REDAKSI

Tim Saber Pungli Pantau PPDB
Tim Saber Pungli Pantau PPDB Batam,hariandialog.com/Kepri-6-7-18-Tim Satuan Sapu Bersih (Saber) Pungutan Liar (Pungli) Kota Batam menyasar proses Penerimaan Peserta Didik Baru...
GAGAL JADI PEMIMPIN DAN JADI PEMIMPIN GAGAL
GAGAL JADI PEMIMPIN DAN JADI PEMIMPIN GAGAL

Oleh: Johan Murod Babelionia, S.IP.MM. Bangsa Indonesia telah...

SURAT KABAR DIALOG

KESEHATAN

Pradi Supriatna Apresiasi Kegiatan Donor…

Depok, hariandialog.com - 13-07-2018 - Wakil Walikota Depok, Pradi Sup...

Kader Jumantik RW.04 Rawajati Rutin Gelar Kegiatan PSN

Kader Jumantik RW.04 Rawajati Rutin Gela…

Jakarta, hariandialog.com - 06-07-2018 - Di Pos Rw. 04 Kel Rawajati ...

TEKNOLOGI

Terpilih Sebagai Lokasi Survey EODB oleh World Bank    DPMPTSP Badung Belajar Pelayanan Publik di Ge
Terpilih Sebagai Lokasi Survey EODB oleh World... Denpasar, hariandialog.com- 9- 7 -2018 - Untuk  meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan...

KANTOR PUSAT :
Jl Binawarga No 4 Kalibata, Jakarta Selatan 12750 Telp. (021) 79193461, 92296596; Fax. (021) 7946448
Email: dialog_indonesia@yahoo.com - http://www.hariandialog.com

PERWAKILAN :
• Tanggerang • Serang • Banten • Bekasi • Kerawang • Cibinong • Bogor -Cianjur- Sukabumi • Bandung• Garut • Tasikmalaya•Sumedang• Purwakarta • Cirebon • Majalengka • Indramayu • Semarang • Surabaya • Sidoarjo • Bali • Bima • Bandar Lampung • Lampung Selatan • Lampung Utara • Lampung Barat • Tanggamus • Bangka • Bangka Barat • Pangkal Pinang • Belitung • Jambi• Sumsel • Bengkulu• Lubuk Linggau • Lingga • Batam• Tanjung Pinang • Karimun«Pekan Baru • Padang • Medan • Kabanjahe«Tanahkaro • Deliserdang«Serdang Bedagal• Binjal -Langkat «Labuan Batu •Sibolga-Pematang Slantar»Tarutung.Barus« Makasar-Sulbar-Mamuju •Bolmong«Sorong Papua Barat • P. Sidempuan • Nias • Bengkulu • Tembilahan