Hariandialog,Thursday 21 March 2019, 05:07

Guru Milenial dan Ki Hadjar Dewantara

Oleh: Endah Suciati SPd MPd

Ada dua hal yang perlu disikapi guru di era milenial ini, yakni globalisasi dan disrupsi teknologi. Demikian Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (25/11/2018). Sebab itu, para guru harus memiliki paradigma milenial.

Globalisasi membuat manusia merasa seolah tanpa batas, berbanding lurus dengan kaburnya batas nilai dan budaya. Hal ini tidak hanya membawa paham yang bertolak belakang dengan nilai ke-Indonesiaan, tapi juga dengan nilai agama.

Disrupsi teknologi ditandai dengan munculnya berbagai inovasi perangkat yang berbasis “artificial intelligence” atau kecerdasan buatan, antara lain terlihat dari anak didik masa kini yang tak bisa dilepaskan dari perangkat digital virtual dalam hidupnya.

Dirupsi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah hal yang tercabut dari akarnya, di mana perubahan ini telah mencabut tatanan sosial lama secara fundamental.

Adapun generasi milenial (juga disebut Generasi Y atau Gen-Y), menurut Wikipedia Indonesia, adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Dengan demikian, penulis yang lahir tahun 1975 tidak termasuk generasi milenial, tapi murid-murid yang penulis ajar adalah generasi milenial. Alhasil, penulis pun harus memiliki paradigma melinial sebagaimana dimaksud Menteri Agama.

Mengutip pendapat Nailul Authar (SerambiNews.com, Sabtu 24 November 2018), generasi yang kita hadapi sekarang ini adalah anak-anak milenial yang sangat mahir memanfaatkan alat teknologi dan informasi. Ketika seorang guru memberikan tugas, mereka akan memanfaatkan media sosial, forum guru daring atau bahkan situs-situs penyedia layanan menjawab pekerjaan rumah (PR) untuk menyelesaikan tugasnya. Mereka tak akan lagi terjebak pada satu sumber jawaban, baik itu guru maupun buku. Keterikatan pada satu sumber ilmu pengetahuan adalah kebiasaan lama yang telah ditinggalkan oleh anak-anak milenial. Seorang guru milenial dalam kegiatan belajar mengajarnya tidak bisa lagi memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.

Tapi kita tak perlu cemas. Semboyan pendidikan yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), yakni, “Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat), tutwuri handayani (di belakang memberi dorongan)” tampaknya masih relevan dengan era milenial saat ini.

Pertama, “ing ngarso sung tuladha", kata "tuladha" berarti teladan. Artinya, seorang guru sebagai pemimpin proses belajar-mengajar di kelas harus dapat memberikan teladan atau menjadi panutan bagi siswa, bahkan bagi orang-orang sekitar.

Hal ini selaras dengan pendapat Nailul Authar bahwa dalam model pembelajaran dewasa ini kita tidak lagi dapat memposisikan siswa sebagai objek pendidikan. Bisa jadi anak-anak lebih cepat tahu daripada  gurunya mengenai hal-hal tertentu karena mereka terlebih dulu mengaksesnya. Maka seorang guru milenial harus memosisikan dirinya selain sebagai guru juga sebagai seorang pembelajar. Guru bersama-sama siswa secara kolaboratif belajar bersama dan sama-sama menemukan ilmu pengetahuan yang sumbernya bisa dari guru atau bisa jadi dari siswa. Sebagai pembimbing dan mediator, guru tak perlu malu untuk beberapa hal berucap, “Maaf Nak, bapak/ibu belum paham betul mengenai hal ini, mari kita belajar bersama untuk bisa menjawab permasalahan ini”.

Kedua, “ing madya mangun karsa”; "mangun" berarti membangun, "karsa" berarti niat. Jadi, guru harus dapat memberikan inspirasi/motivasti berupa ide ketika berada di antara murid. Peran sebagai motivator dan suporter ini tidak bisa digantikan oleh teknologi. Sentuhan guru untuk menginspirasi siswa tidak bisa dilakukan oleh robot mana pun. Sentuhan ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam proses pendidikan, sehingga para siswa dapat menemukan minat dan talentanya, serta menjadikannya berkembang menjadi pembelajar yang mandiri (independent learner).

Ketiga, “tutwuri handayani", berarti seorang guru harus dapat memberi dorongan dan arahan. Bagaimana guru bisa memosisikan diri sebagai fasilitator dan mediator yang bisa mendorong dan mengarahkan para siswa untuk dapat menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuannya sendiri dengan cara yang baik dan benar. Ini merupakan esensi dari kurikulum nasional sekarang yang berupaya menghidupkan pemikiran kritis anak-anak melalui “discovery learning” (pembelajaran dengan upaya menemukan sendiri ilmu pengetahuannya), “project based learning” (pembelajaran berbasis proyek), dan “problem based learning” (pembelajaran berbasis problem).

Guru juga harus dapat meneguhkan posisi siswa agar tetap berada dalam jati diri bangsa Indonesia yang religius (agamis), sehingga mampu menghindarkan diri dari dampak negatif globalisasi dan disrupsi teknologi.

Penulis adalah Tenaga Pengajar di SMP Batik Surakarta. Tulisan ini pendapat pribadi, tidak mewakili institusi

 

 

Berita Sebelumnya:Berita Terkait:

PILIHAN REDAKSI

Canangkan Program WBBM, Pemberian Hak-Hak Narapidana Semakin Pasti
Canangkan Program WBBM, Pemberian Hak-Hak... Jakarta. Hariandialog. Com - Ditjen Pemasyarakatan (PAS) mendeklarasikan Pemberian Hak Remisi, Integrasi Narapidana dan Anak serta Pencanangan...

SURAT KABAR DIALOG

KESEHATAN

Listrik Padam Layanan RS Kota Bengkulu Tidak Maksimal

Listrik Padam Layanan RS Kota Bengkulu T…

Bengkulu, hariandialog.com – 31-1-2019 - Rumah sakit milik Pemerinta...

Direktur “Akreditasi RSUD M Yunus Terkendala Dokter Spesialis”

Direktur “Akreditasi RSUD M Yunus Terken…

Bengkulu, hariandialog.com - 24-1-19 - Direktur RSUD dr M.Yunus Beng...

TEKNOLOGI

Terpilih Sebagai Lokasi Survey EODB oleh World Bank    DPMPTSP Badung Belajar Pelayanan Publik di Ge
Terpilih Sebagai Lokasi Survey EODB oleh World... Denpasar, hariandialog.com- 9- 7 -2018 - Untuk  meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan...

KANTOR PUSAT :
Jl Binawarga No 4 Kalibata, Jakarta Selatan 12750 Telp. (021) 79193461, 92296596; Fax. (021) 7946448
Email: dialog_indonesia@yahoo.com - http://www.hariandialog.com

PERWAKILAN :
• Tanggerang • Serang • Banten • Bekasi • Kerawang • Cibinong • Bogor -Cianjur- Sukabumi • Bandung• Garut • Tasikmalaya•Sumedang• Purwakarta • Cirebon • Majalengka • Indramayu • Semarang • Surabaya • Sidoarjo • Bali • Bima • Bandar Lampung • Lampung Selatan • Lampung Utara • Lampung Barat • Tanggamus • Bangka • Bangka Barat • Pangkal Pinang • Belitung • Jambi• Sumsel • Bengkulu• Lubuk Linggau • Lingga • Batam• Tanjung Pinang • Karimun«Pekan Baru • Padang • Medan • Kabanjahe«Tanahkaro • Deliserdang«Serdang Bedagal• Binjal -Langkat «Labuan Batu •Sibolga-Pematang Slantar»Tarutung.Barus« Makasar-Sulbar-Mamuju •Bolmong«Sorong Papua Barat • P. Sidempuan • Nias • Bengkulu • Tembilahan