Hariandialog,Tuesday 22 August 2017, 06:51
Opini

Membaca Batin Seorang Penyair Lewat Syair "Berair"

Oleh :Pulo Lasman Simanjuntak

(Ketua Komunitas Sastra Pamulang)

Sesungguhnya untuk seseorang yang pernah mengenal dunia sastra lewat puisi/sajak, tak pernah ada kata melupakannya.Meski, bisa jadi, dalam performa sehari-hari sepertinya tak tampak.Karena mengenal puisi, itu berarti berkelanjutan pada proses mengetahui, mencintai, dan pada akhirnya sulit lagi untuk melepaskan diri dari padanya. Itulah yang terjadi pada diri saya yang disela kesibukan sebagai wartawan, tak pernah menyurutkan keakraban dengan puisi/sajak.

Sebagai proses kreatif dalam menulis puisi/sajak- seperti puisi/sajak yang saya tulis di bawah ini- saya mencoba untuk mengukur sejauh mana kadar kepenyairan saya sejak pertama kali menulis puisi/sajak pada era tahun delapan puluhan. Atau tepatnya karya sastra di bawah ini seperti ingin membaca batin seorang penyair lewat syair-syair "berair" yang terus mengalir dengan deras meskipun terus bergelut dengan pergumulan hidup yang kian berat menindih di atas kepala ini. Puisi memang lahir dari sebuah pergumulan batin yang hebat.Kadang terluka, perih, pedih! Namun, kadangpula ada secercah rasa bahagia, gembira, dan sukacita yang meledak-ledak.

Puisi memang telah membuat saya tetap "setia" bergelut dengan dunia sastra yang belakangan ini kehadirannya kian terpinggirkan-malah nyaris lenyap- "kalah" dengan berita-berita politik, korupsi, demo, amuk massa,infotaiment, dan masih banyak lagi. Seorang penyair-termasuk diri saya- sepertinya telah kehilangan media sebagai saluran untuk menyalurkan talenta yang kaya batin dan jiwa  bermakna-makna. Biarlah, waktu terus berlalu.Matahari terbit dan matahari terbenam. Yang penting; kita masih dapat "menikmati" sebuah puisi/sajak seperti yang telah saya tulis di bawah ini. Selamat menikmati.

Dari Benua Lain

Dari benua lain. kucuri jejak-jejak membatu

kemarau pecah di tangan kiri.seperti suara-suara riuh

pesta rakyat politik semu.

masihkah penyair gemulai

bermukim di situ ?

Matahari yang melepuh dalam sajakmu

tak mampu meninju jasadku.”aku datang tanpa topeng.seperti dulu kita pernah memburu para pekerja malam di pinggir kotamu.”

Lama engkau sodorkan sumur-sumur subur

menggairahkan cuaca yang surut

dalam permainan kata.permainan makna.

Di depan pintu gerbang itu

sepiku terperosok ke dalam selokan.

Kurenangi tangis sungai.keruh.

bulan menganga.bintang-bintang terjaga.

di pintu halaman rumahmu aku berlari membawa salib.jati diri!

tak bertemu.jarak tegak.

berkilometer suara sudah disentuh

dari hotel berbintang.turun lagi ke jagad yang sejati

sepucuk surat genap

melenyapkan angan debat yang purba.

Pamulang, 1997/ 2012

Boneka Kapas Takut Terbang Ke Surga

“Seperti boneka kapas dari kepala sampai kaki berjubah.”

semua sepakat memenggal jejak arang

terperangkap dalam lingkaran ruang

batu-batu roh.

“Dia duduk bersujud rambut sebahu amat kecil.”

muatan angin malam

mengingatkan kepada gembala yang meluncur deras

dari bukit-bukit pengorbanan.di bawah pohon rimbun

ditentang para nabi.

Sayap-sayap beelzebul dipatahkan berkeping

muntah dosa-dosa ganjil.usus perut meletus.

di pinggul rumah bordil mula pertama tak berziarah

tiap dinihari menabur kembang birahi

penyakit kusta masuk ke dalam tong sampah

daging berdarah kubanting ke tanah.

Tertidur pulas dalam sumur kering

otak disiram bunga api.mabuk air keras.

Daun pintu dulu rajin diketuk.digembok.

kuncinya ialah layangan terbang ke negeri orang

menggilas genteng rumah

gelisah mengangkat tabut perjanjian.

Pamulang, 1997/2012

Kamar Gas Liar

Dari kamar bendera setengah tiang dikibarkan.jantung dielus-elus.

jodoh zaman batu.

angin balsem memijat

waktu riuh birahi jam berdetak.terjebak kelamin.

sambil terus membanting sayap-sayap ringan

ke udara.tidur di atas menara listrik tegangan tinggi.

Pamulang,1997/2012

Kasus

Hujan deras dimuntahkan di atas payudaramu

kini bersekutu dengan suara azan subuh

belati ditikam bertubi-tubi

di kedua kelopak mata

bumi lumpuh.

Seekor srigala liar terperosok

di rusuk ranjang.

Pamulang,1997/ 2012

Mata Uang

Kuku burung menggigit badan aspal

tiap siang siapa hendak diterkam

lewat berita koran

gerombolan hewan bertaburan

di wajah para cendekiawan.

Sayap ular mengendus-ngendus

ke dalam riwayat kedil

dengan bintang tanda jasa

berserakan di uban kepala.

Mulutnya runcing seperti bocah kehilangan kamar

gadis-gadis molek

menawarkan persembahan

menuju tiang salib.

Kini giliran kaki gajah menginjak matahari

dengan sebelah mata buta.bertafakur.

padahal ia tak mengerti (barangkali alpa)

kuku burung dan sayap ular

siap menerkam kaki gajah.disembelih.kompor-kompor garang.

Pamulang, 1997/2012

Tulang-Tulang Rohani Diremukkan

Inilah tubuh rohaniku yang telah kupersembahkan selama sembilan abad dalam rumah Tuhan.Dalam pelayanan kepalaku terus mengecil.bergerilya di atas batu-batu di ujung akhir tahun otakku yang pecah masih rajin memuji nama Tuhan.

Lihatlah, tubuh rohaniku dipotong-potong dengan pisau kematian

bola mataku sulit dipejamkan takut melihat matahari

terkapar sendirian di trotoar jalan sambil menjual perabotan perkawinan

harga saham terendah di bursa dunia.

Jakarta, 30 Desember 2008

Airmata Menyerbu

Sebuah kota lahir dari perutmu

deras seperti aliran sungai

menuju ke muara rembulan.

Apalagi harus ditikam

saudara kembar memecahkan

bumi bergerak pelan

oi, sunyi ini akan makin berlemak.

Pamulang, Juli 2012

Tanah Yang Tolol

Kertas-kertas putih itu

“aku sendiri tidak tahu sedang berada di negara mana,”katamu

sebelum beranjak memunguti nama-nama yang pernah dikhianati

tanah leluhur kita

bertahun-tahun sudah menabur logika.

Menyedot buas kelenjar otak

bulan berteriak bangunkan para penghuni

dari bawah paru-paru bumi.

Dari musim ke musim nyawa terjebak

dalam kubangan yang kugali setiap hari.

“bila nanti posisi cuaca tak berganti

bertempurlah lebih keras lagi.”

Diperas pembuluh darah

airmata memburu jam dan waktu

alangkah gurih pertapa sejati.

Bekasi-Pamulang, 97/012

Lidah

Sepotong daging membakar hutan binatang-binatang menjalar tak dapat dijinakkan.Racun mematikan jadi berkat atau kutuk binatang-binatang laut tak dapat disingkirkan.Benda-benda rusak sumber air tawar sumber air pahit.Burung-burung tak dapat terbang ke udara tinggi sekali.Semua itu hanya kata-kata pujian lihat teladan Mesias dengan kata-kata indah seperti puisi yang dapat direnungkan.

Bekasi, 6 Agustus 2005

Otak Merekam

Tiba-tiba cuaca terkejut

pori-pori waktu saling bersapa

gerangan apa dalam genangan

perempuan masih gemar bercumbu dengan terumbu karang.

Hidup memang bukan hanya bersolek

atau menabur kemenyan

dalam kuburan.

Jakarta, 2012

Malam Di Kota Purbalingga

Kesetiaan apa

membuat engkau tiba-tiba

menjadi seekor rusa yang liar.

Beranak ganjil.menyusui sungai-sungai panen hasil bumi

rinduku bertebaran di rak perpustakaan

rumah dukum jaringan syaraf tak bergerak.

Tanpa kesan apapun

pertama mengenal ranjang ranum

hulu kamar mengalir deras

bau busuk gigi nafasmu.

Pamulang, 2012

Biodata

Pulo Lasman Simanjuntak,Alumnus STP/IISIP, Jakarta.Sajak-sajaknya dipublikasikan atau disiarkan di Majalah Keluarga,Dewi,Nova,Monalisa,Mahkota.Harian Umum Merdeka,Suara Karya,Jayakarta,Berita Yudha,Media Indonesia, Skm.Simponi, Seputar Indonesia (Sindo)dan Skm. Dialog.Kumpulan sajaknya yang sudah terbit Traumatik (CV.Gitakara,1997) dan Kalah Atau Menang(Sastra Kita Jakarta,1997), dan tengah mempersiapkan terbitnya buku kumpulan sajaknya yang ketiga, Taman Getsemani (Komunitas Sastra Pamulang,2012).Pernah aktif pada Bengkel Sastra Ibukota, Kelompok Sastra Kita Jakarta, dan saat ini bergiat pada Komunitas Sastra Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Ancaman Media Daring, Dunia “Tanpa Kertas” Oleh :Pulo Lasman Simanjuntak

(Peneliti Senior Pada Pusat Studi Media Massa Pamulang Institute)

Dalam buku “Cerita di Balik Dapur Tempo, 40 tahun (1971-2011)” halaman 4,ditulis; ada ancaman lain, sekaligus peluang besar, di zaman internet ini:kemajuan teknologi informasi.Media yang tak mempedulikan tren dunia digital mesti bersiap-siap menjadi fosil atau sejenis satwa langka yang menanti punah.Orang tak lagi hanya membaca berita di media cetak, lewat siaran televisi, dan radio, tapi lewat komputer personal dan perangkat yang bisa dibawa “bergerak” seperti BlackBerry,iPhone,iPad,Playbook, serta berbagai tablet digital.

 

Page 20 of 20

PILIHAN REDAKSI

Haji Khusus Maghfirah akan Berdoa untuk Kebaikan Bangsa di Tanah Suci
Haji Khusus Maghfirah akan Berdoa untuk Kebaikan... Jakarta, hariandialog.com - Sebanyak 159 jamaah haji Khusus PT. Kafilah Maghfirah Wisata atau yg lebih dikenal dengan nama Maghfirah Travel telah...
Keberangkatan Jamaah Haji Khusus AMPHURI Dilepas Dirjen PHU
Keberangkatan Jamaah Haji Khusus AMPHURI Dilepas...

Jakarta, hariandialog.com - Setelah hampir dua pekan pemberangkatan...

SURAT KABAR DIALOG

KESEHATAN

Pemkab Bogor Lakukan Imunisasi Measles Rubella Gratis

Pemkab Bogor Lakukan Imunisasi Measles R…

Bogor,hariandialog.com – 7-8-17-Pemerintah KabBogor (Pemkab Bogor-re...

Wabup Darma Wijaya : Akreditasi Tingkat…

Tebing Tinggi,hariandialog.com - Sebagai bentuk keseriusannya dalam ha...

TEKNOLOGI

Gubernur Pastika Coba Mobil Listrik
Gubernur Pastika Coba Mobil Listrik Denpasar, hariandialog.com - 4-7-17 - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mencoba mobil listrik rancangan Swedia yang sudah diproduksi di dalam...
Bali Industri Kreatif Expo 2017
Bali Industri Kreatif Expo 2017

Denpasar, hariandialog.com - 14-3-2017 - Setelah dinilai tim juri...

KANTOR PUSAT :
Jl Binawarga No 4 Kalibata, Jakarta Selatan 12750 Telp. (021) 79193461, 92296596; Fax. (021) 7946448
Email: dialog_indonesia@yahoo.com - http://www.hariandialog.com

PERWAKILAN :
• Tanggerang • Serang • Banten • Bekasi • Kerawang • Cibinong • Bogor -Cianjur- Sukabumi • Bandung• Garut • Tasikmalaya•Sumedang• Purwakarta • Cirebon • Majalengka • Indramayu • Semarang • Surabaya • Sidoarjo • Bali • Bima • Bandar Lampung • Lampung Selatan • Lampung Utara • Lampung Barat • Tanggamus • Bangka • Bangka Barat • Pangkal Pinang • Belitung • Jambi• Sumsel • Bengkulu• Lubuk Linggau • Lingga • Batam• Tanjung Pinang • Karimun«Pekan Baru • Padang • Medan • Kabanjahe«Tanahkaro • Deliserdang«Serdang Bedagal• Binjal -Langkat «Labuan Batu •Sibolga-Pematang Slantar»Tarutung.Barus« Makasar-Sulbar-Mamuju •Bolmong«Sorong Papua Barat • P. Sidempuan • Nias • Bengkulu • Tembilahan